Ciptakan Brand Image pada Konsumen Dalam Dunia Agribisnis Dan Pertanian

Sebanyak 850ton bibit kentang dihasilkan Mitra Usaha Tani setiap tahunnya. Bisa dipastikan para pekebun langganannya bisa ajeg memanen kentang 15ton per ha. Kualitas bibitnya memang terjamin. Tidak salah bila pada 1995 Mitra Usaha Tani memperoleh sertifikasi dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Jika mencari bibit kentang, orang langsung menyebut kentang bandung sebagai “merek” kelas satu. Di Bandung, para penjual bibit pasti akan menawarkan kentang pangalengan sebagai bibit nomor wahid. Saat menelusuri Pangalengan, produk hikmah-lah jadi pilihan utama.

Predikat yang melekat tersebut tak tercipta begitu saja. Dari tahun ke tahun, pengembangan di bidang ini telah dibuktikannya. Mulai dari sekadar menjual bibit, kini selangkah lebih maju dengan bibit bersertifikat. “Sejak 1995 kita berhasil memperoleh sertifikasi dari BPSB,” jelas Wildan Mustofa, manajer pengembangan Mitra Usaha Tani. Dengan bibit tersebut, produksi kentang yang dihasilkan dijamin lebih berkualitas.

Brand image Dalam Industri Pertanian

Memperoleh label sertifikasi memang bukan hal mudah. Dengan ‘pengesahan’ dari BPSB bibit itu terjamin kualitasnya, baik dari produktivitas, kesehatan bibit, dan sebagainya. Sejak awal Hikmah memang mengelola bibit ekstra ketat. Bibit dari kultur jaringan, diolah menjadi GO dalam greenhouse. Selesai tahapan ini, selanjutnya bibit diperbanyak menjadi G1 sampai G4 pada lahan khusus seluas 50—60 ha. Setelah penanaman di lahan, bibit-bibit tersebut secara bertahap akan disimpan dalam gudang penyimpanan. Bangunan seluas 4.224 m- tersebut dibagi dalam 4 lantai. Masing-masing dibedakan atas fungsinya. Mulai dari penampungan, penyortiran, penyimpanan awal, penyimpanan berdasarkan ukuran dan generasi siap jual (G3—G4). Meski sekilas mudah, untuk memproduksi bibit dari GO hingga G4 butuh waktu lama. Satu generasi saja perlu 8 bulan, jadi total 3 tahun 4 bulan hingga bibit siap jual.

Menurut Wildan, salah satu keunggulan Mitra Usaha Tani yakni menyediakan bibit secara lengkap. Artinya, “Kita berusaha melayani berbagai lapisan konsumen dengan menjual bibit dari berbagai ukuran, varietas, dan kualitas.” Jadi semua pekebun kentang tak perlu pergi ke lain tempat begitu menginginkan bibit berbeda.

Lebih lanjut, Mitra Usaha Tani bercita-cita menciptakan brand image (pencitraan merek-red) ke konsumen. Artinya bila konsumen ingin membeli bibit kentang, yang diingatnya hanya Hikmah. “Kita berusaha memproduksi bibit sesuai target pasar dan masuk ke pasar ritel,” kata putra ke-2 Adung dari 14 bersaudara ini. Bukan lagi produk generik yang tak dikenal dan diragukan mutunya atau dianggap sama rata dengan bibit asal penangkar lainnya.


Awalnya kubis

Sosok besar Mitra Usaha Tani tersebut tidak bisa lepas dari usaha dan keija keras HM Adung Syafei. Sukses tersebut bukan hadiah dari langit. Bapak kelahiran 1946 telah merintis sejak tahun 1962. Ketika itu, modalnya hanya lahan seluas 0,25ha. Meski terbatas, Adung mencoba bertanam kentang dan kubis. Atas kepercayaan orang tuanya pada 1963 lahan diperluas menjadi 5ha dan dibantu 29 orang pekeija.

Usaha Adung ternyata maju pesat. Pada 1967 ia melebarkan usaha dengan membuka kios pertanian. Inilah cikal bakal Mitra Usaha Tani. Tak hanya terbatas bertanam, Adung pun terjun ke perdagangan sayur-mayur dan pembibitan kentang. Sayur-mayur sebagian besar dikirim ke Bandung, Sukabumi, dan Pasar Senen, Jakarta.

Sejalan dengan meningkatnya pamor Mitra Usaha Tani, naluri bisnis Adung makin terasah. Pada 1975 ia merambah ke bidang pembibitan kentang. “Prospeknya bagus, selain untuk kebutuhan sendiri juga kebutuhan petani lainnya,” tutur Wildan. Awalnya ia hanya mengimpor bibit granola dari Jerman. Seiring dengan makin banyaknya permintaan bibit, diputuskan untuk tidak mengimpor lagi. Namun, Wildan mencoba menangkarkan sendiri.

Usaha yang maju ini berdampak dengan makin meluasnya lahan penanaman. Pada 1990-an lahan mencapai 100ha. Dari lahan tersebut setiap hari pak haji itu memasok kentang untuk keperluan industri makanan dan pasar tradisional. Sekarang usaha ini semakin pesat, lahan pun membengkak hingga 150ha. Tersebar dari Ciwidey, Kertasari dan Pangalengan. Tak heran bila untuk mengelolanya dibutuhkan 708 pekerja.

Refbacks

  • »
  • »
  • »